Senin, 02 Juni 2014

Teruntuk Kesayangan

Masih ingat saat pertama kali belajar naik sepeda?
Saat itu kamu baru umur 3
Dan ingin sekali naik sepeda pertamaku
Sepedamu roda tiga..milikku roda empat
Kamu ingin sepeda yang rodanya lebih banyak --")

Yasudah, Ayah mengajarimu seperti saat Ayah mengajarkanku
Tapi kamu tidak selihai aku (*bangga)
Susah payah kamu mengayuh
Dan akhirnya memilih kembali ke sepeda lamamu
Si roda tiga :))

Masih ingat saat pertama kali belajar membuat layang-layang?
Kamu sangat menyukai layang-layang
Sangat ngotot membuat layang-layang sendiri tanpa bantuan
(tapi tentu saja lagi-lagi Ayah turun tangan)
Dan kamu sangat bangga dengan layang-layang segiempat pertamamu

Kita berlari menyusuri pematang sawah
Aku ingat saat itu kamu umur 5
Kamu sedang senang-senangnya berlari
Tapi kamu kurang mawas dan jatuhlah kamu ke sawah
Layang-layang kerja kerasmu rusak parah
Menangislah kamu sekencang-kencangnya

Aku hanya bisa menggendongmu pulang
Dengan layang-layang rusak di genggaman tangan
Kamu mengadu pada Ayah sejadi-jadinya
Dan seperti biasa, Ayah selalu bisa menenangkan

Semalaman Ayah membuatkanmu layang-layang yang baru
Semalaman juga aku menemani Ayah
Sengaja Ayah menunggumu tidur dulu baru membuat layang-layang
Dan aku menjadi orang pertama yang menunjukkanmu hasil karya Ayah :D
Senyum gembiramu di pagi hari menyertaiku berangkat sekolah :))

Masih ingat ketika kita selalu berebut masuk ke sarung Ayah saat beliau duduk?
Kamu selalu menjadi pemenangnya
Badan kamu kecil
Dan sebagai kakak, aku harus mengalah (iya kan?)

Masih ingat ketika kita sering perang guling?
Kamu selalu kalah
(Untuk yang satu ini aku tidak pernah mau mengalah :p)
Dan aku selalu kena omel Ibu saat kamu menangis *sigh

Masih ingat ketika kamu meniru kebiasaanku?
Selalu tertidur di ruang tamu
Aku sudah cukup besar untuk menggendongmu ke kamar
Meniru kebiasaan Ayah saat aku masih kecil :))

Kamu mulai beranjak remaja
Sudah mulai mengenal cinta
(Atau sebut saja cinta monyet)
Mulai sering bercerita tentang gadis yang dekat denganmu

Tak jarang kamu bandel melawan Ibu
Kamu mulai mengenal berontak
Semua Ibu ingin yang terbaik bagi putranya bukan?
Tapi nalar remajamu belum bisa menerima
Dan kini kamu tersenyum bodoh ketika kita bercerita tentang semua itu

Kini kamu sudah besar
Tapi kebiasaanmu tidak berubah
Masih saja kerap tertidur di ruang tamu
Kebiasaanku yang berubah
Aku yang tak lagi kuat menggendongmu ke kamar
Aku hanya bisa membangunkanmu
Atau membawakanmu selimut saat kamu enggan beranjak
Kamu sudah menjadi laki-laki dewasa

Kamu tidak hanya lebih besar, Sayang
Lebih dewasa daripada aku
Lebih sabar daripada aku

Mungkin di kehidupan sebelumnya kamu adalah kakakku
Seorang kakak adalah contoh bagi adiknya
Mungkin kita harus bertukar posisi
Karena nyatanya aku memang lebih manja :)


Teruntuk Kesayangan
Selalu jadilah lelaki kebanggaanku




Kerinduan

Pelukmu adalah rumah bagiku, Ibu
Tenang yang selalu kudapat disana saat aku bergemuruh

Teduh matamu adalah cahaya bagiku, Ayah
Arah yang selalu kutemukan saat aku tersesat

Aku merindukan rumah
Aku mulai kehilangan arah
Aku ingin pulang ke rumah
Dimana peluk Ibu membentang lebar menantiku di depan pintu
Dimana teduh mata Ayah menyapaku lembut

Aku merindukan rumah
Dimana masakan sederhana Ibu selalu menjadi candu
Dimana obrolan kecil bersama Ayah selalu membawa bahagia

Aku rindu saat memporak-porandakan dapur bersama Ayah
Aku rindu pada omelan-omelan kecil Ibu yang gemas melihat tingkah kami
Aku rindu saat diam-diam Ibu melabuhkan kecup lalu mematikan lampu kamar
Aku juga rindu digendong Ayah ketika tertidur di ruang tamu

Ajari aku sabar, Ibu
Ajari aku untuk kuat, Ayah
Aku harus sering berteman dengan jarak
Aku harus belajar tidak menyerah pada jarak

Kamu

Sayang...
Kamu tidak lebih dekat dari urat nadi
Karena sesungguhnya ia milik Tuhan

Kamu tidak selalu lekat dengan pelupuk mata
Karena sungguh butuh jarak untuk melihat dengan jelas

Kamu hanyalah bagian atas aku
Tiada kamu, aku takkan utuh
Itu saja...

Jika aku diijinkan untuk dekat denganmu
Aku ingin kamu sedekat matahari
Ia menghangatkan....memberikan kehidupan
Ia membuatku tau seperti apa rupa bintang
Ia membiarkanku tahu seperti apa lengkung bulan
Ia mengijinkan mataku menikmati semesta

Tidak ku tulis engkau dalam hati
Karena sungguh Sang Maha selalu membolak-balikkan

Tidak ku tulis engkau dalam otak
Karena sungguh aku adalah pengingat yang payah

Jika aku diijinkan untuk menuliskanmu
Aku ingin menuliskanmu pada punggung angin
Tidak terlihat memang
Tetapi kamu membentang cakrawala
Memenuhi semesta
Dan ijinkan aku menjadi semesta yang menantikan kehadiranmu (?) 

Terbanglah, Sayang....
Tiada akan ku kekang
Bebaslah, Sayang....
Kamu bukanlah burung yang butuh sangkar
Karena aku tahu, kamu tahu jalan pulang



Kamis, 15 Mei 2014

Sudah Bukan Hanya

Kamu sudah menyungging senyum
Mereka bukan tidak melihat
Mereka hanya sedang membutakan mata

Kamu sudah mempersembahkan bunga
Mereka bukan tidak mencium wangi
Mereka hanya sedang memalingkan hidung

Kamu sudah memberikan tanya
Mereka bukan tidak menjawab
Mereka hanya sedang membisukan mulut

Kamu sudah mengetuk pintu
Mereka bukan tidak mendengar
Mereka hanya sedang menulikan telinga

Kamu sudah mengulurkan jabat
Mereka bukan tidak menyambut
Mereka hanya sedang melumpuhkan tangan

Kamu sudah memberikan kasih
Mereka bukan tidak menerima
Mereka hanya sedang menumpulkan hati

Selasa, 13 Mei 2014

Save me (?)

Di luar hujan sedang turun dengan derasnya
Langit tidak lega jika hanya menjatuhkan rintik
Rindunya sudah terlalu lama
Begitulah cara langit memeluk bumi
Setelah hanya mampu memandang dari jauh

Hujan menyelamatkanku
Setelah sehari penuh aku bersahabat dengan matahari
Hujan menyapu peluh
Memberi teduh
Sama sepertimu

Tulisan ini aku buat sambil menikmati biskuit penyelamat
Karena di luar hujan aku tak bisa keluar kamar
Bukan karena aku takut basah, Sayang
Bukan...

Aku bahkan ingin berlari keluar
Menari di bawah rindu langit
(Dan jika itu bersamamu kedengarannya sempurna)
Tapi aku tidak ingin menghambat pelukan langit pada bumi
Aku memilih menatap dari balik jendela kamar
Dari sini aku merasakannya
Aku bisa merasakan rindu langit yang sangat
Rindu butuh diselamatkan

So, save me (?)

Biru dan Jingga

Aku adalah penikmat birunya langit
Aku juga adalah pengagum jingga senja
Satu yang tak pernah aku temukan
Mereka tak bisa saling berpeluk

Entah biru entah jingga yang tak ingin
Seberapa lamapun biru menunggu, 
jingga selalu datang setelah langit berubah sendu
Pun seberapa cepat jingga mengejar biru,
gelap segera lebih dulu menelannya

Sayang....
Haruskah biru membakar diri agar bisa berpeluk jingga?
Seperti itukah yang jingga inginkan?

Sepasang Mata

There's always sunset in your eyes...
No matter it's morning, middle day, or midnight...

Memandangnya aku selalu menemukan teduh
Melihatnya aku selalu menemukan tenang
Kamu selalu berhasil, Sayang
Tak peduli ombak apa yang bergemuruh di dadaku

Satu pandang,
Dua pandang,
Tanpa sadar kuulangi
Tiada bosan-bosannya aku mengulang
Teduh... itu yang kupetik

Kamu pernah berkata,
"Kita kehilangan senja."
Dengan tampangmu yang kusut tapi menggemaskan
Bagiku tidak, Sayang....
Aku selalu melihat senja
Dia ada di pelupuk matamu
Dia disana dan tidak pernah beranjak
Dan bagiku, senja tidak pernah tidak indah

Di sepasang mata itu, aku menyerah
Di sepasang mata itu, aku tenggelam
Dari sepasang mata itu, aku tak ingin menyelamatkan diri
There's always sunset in your eyes....

Senin, 12 Mei 2014

Rupa Rindu

"Cepat beri tahu aku seperti apa rupa rindu? Aku bisa mati lemas dibekap ragu"
@aqmarinna

Iya, seperti apa itu rindu?
Seperti apa rupanya?
Apakah tenang seperti biru?
Ataukah merona seperti jingga?

Saat aku tanpa sadar memikirkanmu..
Lalu diam-diam menyusuri jalan-jalan yang pernah kita lalui.
Apakah itu bisa disebut rindu?

Saat aku diam-diam mencari tempat yang pernah kita kunjungi..
(dan aku tersesat, tentu saja. Kamu tahu aku pelupa)
Apakah itu bisa disebut rindu?

Saat aku diam-diam singgah di meja yang pernah kita bagi..
Mencari sisa-sisa kamu disana..
Apakah itu bisa disebut rindu?

Saat aku diam-diam memandang potret kita..
Tersenyum karena senyummu disana..
Apakah itu bisa disebut rindu?

Saat aku diam-diam merasa lega melihat sosokmu..
Sekaligus sesak karena entah apa namanya..
Apakah itu bisa disebut rindu?

Saat aku diam-diam bercakap dengan pikiranku..
Berbincang dengannya tentang kamu..
Apakah itu bisa disebut rindu?

Hey....
Masih ingat ketika aku menyatukan namamu dengan senja selepas gerhana matahari?
Memotretnya sebagai kumpulan siluet
Melihat merahnya saat itu, bayangmu melintas
Entahlah...hanya itu yang terpikir tiba-tiba
Namamu menyatu dengan senja yang kutatap
Aku pikir itu lucu

Seperti merasakan hadirmu disana
Menggelikan memang
Kekonyolan seperti itulah yang sering aku lakukan akhir-akhir ini

Entah rindu entah ragu..
Tapi itu mengusik sadarku..
Aku tidak tau, Sayang..
Cepat beri tahu aku seperti apa rupa rindu.

Selasa, 06 Mei 2014

Kepada Bintang

Ku tatap langit malam
Bulan tak lagi tersenyum
Separuhnya bersinar
Separuhnya entah tak kutemukan
Semesta tiada mengijinkanku menatapnya
Pun semesta tak mengijinkanku menatapmu
Tidak rela

Taburan bintang bersanding
Bintang kesayanganku
Selalu berhasil menenangkanku
Selain kamu, tentu saja...

Kepada bintang
Aku bercerita...
Tentang kamu
Tentang kenang
Tentang kecup
Tentang peluk

Lengkung senyummu...
Degub jantungmu...
Renyah tawamu...
Deru nafasmu...
Aroma tubuhmu...
Lembut jemarimu...
Aku ingat.

Aku ingat bagaimana angin memainkan rambutmu
Aku ingat bagaimana air mencumbu tubuhmu
Aku ingat bagaimana senja memanjakan matamu
Aku ingat bagaimana bintang memukau anganmu
Aku ingat semuanya...

Ah sialan..
Aku mengutuk diriku sendiri
Mengutuk lengah yang ku ijinkan hadir
Mengutuk lalai yang ku acuhkan

Kamu dengan angkuh mengambil alih atas aku
Membusungkan dada lalu melenggang membawa hatiku
Tanpa tahu kau bawa kemana hati itu
Aku tengelam...
Denganmu dan permainan yang kau ciptakan

Ku ceritakan semua pada bintang
Bibirku melengkung senyum simpul
Bintang sangat tahu senyumku
Bintang sangat tahu makna senyumku
Bintang sangat tahu alasan di balik senyumku
Dan bintang juga tahu aku sedang gusar

Kepada bintang
Aku menyerah...
Bintang tahu hatiku tidak setegar wajah
Aku senang dia tahu
Sesakku sedikit menguap menuju rengkuhnya
Setetes hujan jatuh mencipta aliran

Kepada bintang
Aku mengaku...

Aku sangat merindukanmu....

(Jangan!) Ceritakan Padaku

Pernah ada sosok dia di hatimu.
(Jangan!) Ceritakan padaku seperti apa sosoknya
Sosok luar biasa yang mampu mencuri hatimu
Sosok hebat yang mampu mengunci senyummu
Sosok yang begitu kau sayangi
Sosok yang begitu kau rindui
(Jangan!) Ceritakan padaku...

Pernah ada tentang dia di hatimu.
(Jangan!) Ceritakan padaku tentangnya
Tentang dia yang dengan teduh kau tatap
Tentang dia yang dengan lembut kau genggam
Tentang dia yang dengan erat kau peluk
Tentang dia yang dengan sayup kau panggil
(Jangan!) Ceritakan padaku...

Pernah ada kenangan di hatimu.
Kenangan akan lengan yang saling merengkuh
Kenangan akan genggam yang saling mengait
Kenangan akan mata yang saling menatap
Kenangan akan hati yang saling terpaut
(Jangan!) Ceritakan padaku...

Pernah ada "kita" dalam kalian.
Ya, pernah...
Cukup itu yang ingin aku tahu
Cukup itu yang ingin aku dengar
Cukup itu yang ingin aku pahami
"Pernah"....hanya itu..

Biarkan sosoknya tetap menjadi misteri
Biarkan tentangnya tetap menjadi tanda tanya
Aku tahu kamu akan dengan suka cita menjawabnya
Aku hanya perlu bertanya "siapa?"
Aku tahu kamu selalu bersinar saat melukis dia dalam aksaramu
Dia euphoriamu

Aku bahagia melihatmu bersemangat
Kamu tentu tahu
Dengarku tak akan bosan untuk celotehmu
Pundakku tak akan lelah untuk penatmu
Genggamku tak akan lalai untuk gusarmu
Yang tak kau tahu hanya satu
Aku tidak sekuat itu tentang dia sebagai euphoriamu

Biarkan saja tetap seperti ini, Sayang
(Jangan!) Ceritakan padaku tentang masa lalumu

Senin, 05 Mei 2014

Peri(hal) Menunggu

Memandangi jarum jam yang bergerak teratur
Menyadari waktu kian bergulir
Meninggalkan mereka-mereka yang berpayah mengejar
Seorang peri termenung...
Sayapnya patah..
Mengejar waktu ia tidak, terbangpun tidak.
Ia tidak sedang berputus asa
Ia menunggu...
Memandangi polah manusia yang berpacu dengan masa
Tidakkah mereka menyadari sesuatu?

1..2..3..
Waktu tidak pernah terlambat datang
Pun waktu tidak pernah terlalu cepat
Selalu tepat
Manusia, makhluk menggelikan

Memilih berpacu dengan masa
Menggerutu ketika kecewa
Itulah manusia
Apakah mereka lupa?
Hidup bukan hanya perihal masalah kecewa.

Ada rasa syukur yang luput dari penglihatan
Ada kebahagiaan kecil yang enggan mereka cicipi
Mereka terus sibuk memacu waktu...
Awal kecewa...jelas!

Lalu mengapa mereka tidak memilih berjalan beriringan?
Menikmati detik demi detik
Mengisi relung-relung hati dengan syukur
Mencicipi kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang terabaikan
Kau tak perlu menjemput kebahagiaanmu
Tidak perlu!
Ia berada tepat di sampingmu, beriringan denganmu
Selalu.
Kau hanya butuh menyadarinya

Dan peri(hal) menunggu
Ini hanya masalah percaya
Percaya pada bahagia yang menanti disana
Disaat yang seharusnya...tepat pada masanya

Sang peri tersenyum
Betapa beruntungnya ia,
Hanya sayapnya yang patah
Tidak seperti manusia,
Yang kerap kali mematahkan hati mereka sendiri
Mematikannya perlahan-lahan
Dan berdalih orang lainlah yang mematahkan hatinya.
Peri itu begidik....
Manusia, makhluk mengerikan.

Peri menyadari sesuatu
Baginya menunggu tak pernah semenyenangkan ini
Sang peri mendongak...memejam dan berucap

Life is not only about disappointment, remember?

Kamis, 01 Mei 2014

Cerita embun


Embun pagi ini mengisahkan bulir-bulir cerita semalam
Masih segar dalam ingatan,
Panggung yang ramai akan heningnya nyanyian sunyi,
Hingar-bingar musik tanpa suara,
Dan pentas penari tanpa gerak.
Dengan (hanya) kamu sebagai pemeran utamanya
Sekaligus penonton dengan tepuk tangan paling riuh

Embun mengisahkannya dengan sempurna pada setiap bulir...
Sesempurna nafas semesta yang sesak setiap kali malam meninggalkan pagi
Malam meninggalkan pagi dengan jejak pelukan embun yang dingin...
Berbeda dengan pelukan hangat dari senja setiap kali malam disambut..

Panggung(ku) Panggung(mu)


Saat ini, kepalaku sedang ramai didendangkan nyanyian sunyi...
Tapi tenang, kamu tetap istimewa :)
Duduk di kursi paling depan dari panggungku.

Tetapi di panggungku, Sayang
Jangan harap kan kau temui warna pelangi,
Atau hingar bingar musik pengiring tari.
Panggungku hanya menyediakan sunyi...

Isilah sendiri!

Isilah dengan entah..
Entah bahagia entah luka
Entah senyum entah duka
Lalu saksikanlah pentas itu
Percaya padaku, kamu pasti tersenyum :)

Hidup ini lucu, Sayang.
Tersenyumlah..
Seluka apapun kamu, berbahagialah
Ingat kataku,
Kamu pemeran utama dalam panggungku
Entah bahagia atau luka peran yang kau mainkan saat ini,
Tidak akan ada pemeran pengganti bagimu!
Dan akan selalu begitu.
You are the one and only

Yes, you :)

Ca(tata)nTikka

Ca(tata)nTikka


Coretan gadis dengan nama kecil Tata
Dan Tikka begitulah sahabat-sahabatnya menyapa
Seorang gadis yang selalu menyukai "Selamat pagi" ketimbang "Selamat malam"
Yang menyukai goresan aksara-aksara yang berjajar random dan menari tanpa henti
Yang sedang senang (belajar) menulis dengan acak
Yang tidak dapat berenang namun dengan suka cita tenggelam dalam nada dan aksara
Dan tidak pernah ingin menyelamatkan diri....

Tidak ada yang tidak menarik baginya...
Mulai dari matahari terbit, hingga senja berganti malam...
Mulai dari embun hingga bintang-bintang...
Mulai dari biru hingga hitam...
Mulai dari alfabet hingga liukan badan dan nada...
Mulai dari kucing hingga pelukan...
Mulai dari potret hingga jalan-jalan...
Mulai dari menyentuh angin hingga memeluk senja...
Mulai dari hujan hingga pelangi...
Mulai dari buku hingga coklat hangat...

Aku...
Begitulah biasanya dia menyebut dirinya....