Saat itu kamu baru umur 3
Dan ingin sekali naik sepeda pertamaku
Sepedamu roda tiga..milikku roda empat
Kamu ingin sepeda yang rodanya lebih banyak --")
Yasudah, Ayah mengajarimu seperti saat Ayah mengajarkanku
Tapi kamu tidak selihai aku (*bangga)
Susah payah kamu mengayuh
Dan akhirnya memilih kembali ke sepeda lamamu
Si roda tiga :))
Masih ingat saat pertama kali belajar membuat layang-layang?
Kamu sangat menyukai layang-layang
Sangat ngotot membuat layang-layang sendiri tanpa bantuan
(tapi tentu saja lagi-lagi Ayah turun tangan)
Dan kamu sangat bangga dengan layang-layang segiempat pertamamu
Kita berlari menyusuri pematang sawah
Aku ingat saat itu kamu umur 5
Kamu sedang senang-senangnya berlari
Tapi kamu kurang mawas dan jatuhlah kamu ke sawah
Layang-layang kerja kerasmu rusak parah
Menangislah kamu sekencang-kencangnya
Aku hanya bisa menggendongmu pulang
Dengan layang-layang rusak di genggaman tangan
Kamu mengadu pada Ayah sejadi-jadinya
Dan seperti biasa, Ayah selalu bisa menenangkan
Semalaman Ayah membuatkanmu layang-layang yang baru
Semalaman juga aku menemani Ayah
Sengaja Ayah menunggumu tidur dulu baru membuat layang-layang
Dan aku menjadi orang pertama yang menunjukkanmu hasil karya Ayah :D
Senyum gembiramu di pagi hari menyertaiku berangkat sekolah :))
Masih ingat ketika kita selalu berebut masuk ke sarung Ayah saat beliau duduk?
Kamu selalu menjadi pemenangnya
Badan kamu kecil
Dan sebagai kakak, aku harus mengalah (iya kan?)
Masih ingat ketika kita sering perang guling?
Kamu selalu kalah
(Untuk yang satu ini aku tidak pernah mau mengalah :p)
Dan aku selalu kena omel Ibu saat kamu menangis *sigh
Masih ingat ketika kamu meniru kebiasaanku?
Selalu tertidur di ruang tamu
Aku sudah cukup besar untuk menggendongmu ke kamar
Meniru kebiasaan Ayah saat aku masih kecil :))
Kamu mulai beranjak remaja
Sudah mulai mengenal cinta
(Atau sebut saja cinta monyet)
Mulai sering bercerita tentang gadis yang dekat denganmu
Tak jarang kamu bandel melawan Ibu
Kamu mulai mengenal berontak
Semua Ibu ingin yang terbaik bagi putranya bukan?
Tapi nalar remajamu belum bisa menerima
Dan kini kamu tersenyum bodoh ketika kita bercerita tentang semua itu
Kini kamu sudah besar
Tapi kebiasaanmu tidak berubah
Masih saja kerap tertidur di ruang tamu
Kebiasaanku yang berubah
Aku yang tak lagi kuat menggendongmu ke kamar
Aku hanya bisa membangunkanmu
Atau membawakanmu selimut saat kamu enggan beranjak
Kamu sudah menjadi laki-laki dewasa
Kamu tidak hanya lebih besar, Sayang
Lebih dewasa daripada aku
Lebih sabar daripada aku
Mungkin di kehidupan sebelumnya kamu adalah kakakku
Seorang kakak adalah contoh bagi adiknya
Mungkin kita harus bertukar posisi
Karena nyatanya aku memang lebih manja :)
Teruntuk Kesayangan
Selalu jadilah lelaki kebanggaanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar